Arisan adalah Pinjaman Berkedok Nabung

Setiap bulan, tanpa kita sadari jutaan orang di Indonesia menyetorkan uang hanya untuk arisan. Ada yang untuk arisan keluarga, arisan kantor, arisan komplek, bahkan arisan . . .
arisan

Setiap bulan, tanpa kita sadari jutaan orang di Indonesia menyetorkan uang hanya untuk arisan. Ada yang untuk arisan keluarga, arisan kantor, arisan komplek, bahkan arisan online. Katanya sih buat nabung. Tapi coba kita pikir lagi, apakah arisan benar-benar menabung, atau justru kita sedang terjebak di lingkaran utang-piutang yang dibungkus rapi dengan istilah “gotong royong”?

Ilusi Menabung yang Menggiurkan

Di mata kita, arisan terlihat seperti cara menabung yang sangat asyik. Bayar sejumlah uang setiap bulan, terus dapat undian dalam jumlah besar. Simpel, kan? Bahkan terasa lebih mudah ketimbang nabung sendiri di celengan atau rekening tabungan. Ada komitmen yang bikin kita “terpaksa” konsisten.

Tapi mari kita bongkar ilusi ini pelan-pelan. Kalau kita dapat arisan di bulan pertama, enak banget memang. Dapat uang banyak, padahal baru bayar sekali. Rasanya seperti rezeki nomplok. Tapi tunggu dulu—uang itu bukan rezeki. Itu utang. Utang sama anggota arisan lain yang uangnya sudah kita pakai duluan.

Matematika Sederhana yang Sering Dilupakan

Mari kita hitung dengan contoh sederhana. Arisan 10 orang, setor Rp500.000 per bulan. Total arisan Rp5 juta setiap bulan.

Kalau kita dapat arisan bulan pertama, kita terima Rp5 juta tapi baru bayar Rp500.000. Berarti kita “pinjam” Rp4,5 juta dari anggota lain. Kemudian 9 bulan berikutnya, kita bayar cicilan Rp500.000—ini bukan nabung lagi, ini bayar utang.

Sebaliknya, kalau kita dapat arisan bulan terakhir, kita sudah setor Rp4,5 juta duluan sebelum terima uang Rp5 juta. Berarti kita yang “ngasih pinjaman” ke orang lain tanpa bunga. Uang kita yang seharusnya bisa produktif, malah nganggur di tangan orang lain.

Di titik manapun kita dapat arisan, totalnya ya tetap sama: kita setor Rp5 juta, terima Rp5 juta. Nol koma nol. Tidak ada keuntungan dari segi finansial sama sekali.

Biaya Tersembunyi yang Jarang Disadari

Yang lebih menyakitkan, arisan justru punya “biaya” tersembunyi:

Opportunity cost. Uang Rp500.000 per bulan yang kita setor bisa diinvestasikan di instrumen lain yang menghasilkan. Deposito, reksadana, bahkan tabungan biasa dapat bunga. Arisan? Nihil.

Risiko gagal bayar. Pernah dengar cerita arisan yang “dimakan” ketua? Atau ada anggota yang kabur setelah dapat arisan? Ini bukan dongeng, tapi kejadian nyata yang merugikan banyak orang. Begitu ada yang gagal bayar, sisanya bisa rugi atau harus nombok.

Tekanan sosial. Kadang kita ikut arisan bukan karena butuh, tapi karena gengsi atau ga enak sama yang ngajak. Akhirnya, keuangan kita yang harusnya dialokasikan untuk hal penting, malah mengendap di arisan yang sebenarnya tidak perlu.

Lalu, Kenapa Arisan Masih Populer?

Pertanyaan bagus. Kalau arisan secara finansial tidak menguntungkan, kenapa masih banyak yang ikut?

Jawabannya: arisan bukan semata-mata soal uang. Ini soal gengsi dan sosial serta psikologis (cara berpikir). Arisan secara tidak langsung menciptakan jiwa sosial, ada rasa kekeluargaan, ada kesempatan kumpul bareng. Buat sebagian orang, fungsi sosial ini jauh lebih berharga daripada opportunity cost yang hilang.

Selain itu, arisan bisa jadi “forced saving” buat orang yang susah disiplin nabung. Komitmen itulah yang membuat mereka malu kalau telat setor, jadi terpaksa sisihkan uang. Dalam konteks ini, arisan bisa jadi alat bantu, meskipun bukan yang paling efisien.

Bolehkah Ikut Arisan?

Tentu saja boleh. Tapi dengan catatan jangan pernah bilang atau percaya bahwa arisan adalah cara menabung yang bagus secara finansial. Arisan adalah aktivitas sosial yang kebetulan melibatkan uang.

Kalau kita ikut arisan, pastikan:

  • Uang yang disetor tidak mengganggu kebutuhan prioritas
  • Arisan dilakukan dengan orang-orang terpercaya
  • Kita paham bahwa ini bukan investasi atau tabungan yang menguntungkan
  • Ada sistem menabung atau investasi terpisah yang lebih produktif

Alternatif yang Lebih Sehat

Daripada arisan, lebih baik:

  • Nabung sendiri dengan auto-debit bulanan ke rekening tabungan atau investasi
  • Reksadana pasar uang untuk yang mau aman dan minim resiko
  • Deposito berjangka kalau mau hasil yang pasti
  • Emas untuk menjaga nilai dalam jangka panjang

Kalau memang butuh wadah untuk jiwa sosial dan “paksaan” untuk disiplin, bisa ikut komunitas finansial atau challenge menabung bersama teman, tapi tetap uangnya di tangan sendiri, bukan diputar ke orang lain.

Kesimpulan

Arisan bukan nabung. Arisan adalah sistem perputaran uang di mana yang dapat duluan berutang ke yang belakangan, dan yang belakangan memberi pinjaman tanpa bunga ke yang duluan. Kalau mau ikut arisan karena memenuhi jiwa sosialnya, silakan. Tapi jangan pernah mengira bahwa ini strategi keuangan yang cerdas dan tepat.

Di era digital ini, ada banyak cara menabung dan berinvestasi yang jauh lebih menguntungkan, aman, dan transparan. Saatnya kita berhenti mengandalkan arisan sebagai alat finansial utama, dan mulai mengelola uang dengan cara yang benar-benar produktif.

Karena pada akhirnya, nabung yang sesungguhnya adalah ketika uang kita bertambah, bukan cuma berpindah tangan.

Referensi

Syamhudi, K. (2014, Januari 20). Arisan dalam pandangan Islam. Almanhaj. https://almanhaj.or.id/3818-arisan-dalam-pandangan-islam.html

Susilawati, D. (2023, September 19). Bolehkah bayar arisan dengan berutang? Republika Online. https://ameera.republika.co.id/berita/s16gil478/bolehkah-bayar-arisan-dengan-berutang

Picture of Muhammad Anwar Ramdhani

Muhammad Anwar Ramdhani

Seorang siswa yang tanpa sengaja jatuh dan terjebak ke dalam dunia kepenulisan. Berbagai curahan pikiran dan hatinya akan siap menjadi sebuah kata-kata yang memenuhi ruang ini dalam waktu dekat—selamat berkelana di pikiranku!
Picture of Muhammad Anwar Ramdhani

Muhammad Anwar Ramdhani

Seorang siswa yang tanpa sengaja jatuh dan terjebak ke dalam dunia kepenulisan. Berbagai curahan pikiran dan hatinya akan siap menjadi sebuah kata-kata yang memenuhi ruang ini dalam waktu dekat—selamat berkelana di pikiranku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *